Tampilkan postingan dengan label Karya Dimuat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Dimuat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 Maret 2018
Jumat, 16 Maret 2018
Minggu, 16 April 2017
Kamis, 24 Maret 2016
Selasa, 05 Januari 2016
Rabu, 23 Desember 2015
Cernak Koran Solo Post, Gaun Biru Selen Dimuat Minggu, 20 Desember 2015
Ini cerpen perdana Ara yang dimuat di Cernak Koran Solo Post. Ide cerita ini didapatkan dari atikel di Majalah Bobo yang mengatakan bahwa nyamuk sangat suka hinggap di warna biru, dibandingkan warna lain. Dari artikel itulah cerpen ini Ara buat. Memberikan kepada pembaca ilmu dan pengetahuan tentang fakta unik nyamuk. Awalnya cernak ini sudah dua kali dikirim ke koran, selain Koran Solo Post, tetapi tidak ada kabar. Lalu Ara ganti nama tokoh yaitu Seon Kurcaci menjadi Selen, dan revisi dengan mengefektifkan kalimat-kalimatnya, dan akhirnya dikirim ke Koran Solo Post pada tanggal 1 Desember 2015. 19 hari masa tunggunya. Hehehe ....
Terima kasih. Selamat membaca ...
Rabu, 16 Desember 2015
Opini Dimuat Koran Rakyat Jateng 4 Desember 2015, Hewan Tak Langka Juga Butuh Perlindungan
Ini opini Ara yang kedua di Koran Rakyat Jateng, Jumat, 4 Desember 2015. Ara membuat opini ini karena bertepatan dengan Hari Hak Asasi Hewan tanggal 10 Desember 2015. Terima kasih utuk Pak Naka yang sudah membimbing Ara menulis opini. Selamat membaca ... Ohya, jangan lupa tinggalkan kecupan di komentar. hehehe ...
Jumat, 27 November 2015
Opini Mengancam Sejarah Melalui Kenangan
Ini sebenernya tugas mata kuliah pembelajaran membaca dan menulis, lalu Pak Dosen ngirim filenya ke Koran Jateng dan nggak nyangka dari banyak tulisan mahasiswa yang dikirim Pak Dosen ke koran itu, tulisan Ara yang dimuat setelah tulisan teman saya, Fania yang duluan dimuat. Jangan tanya perasaan Ara. Tentu saja nggak percaya. Hehehe ...
Baru sempet di posting gara-gara Bumbum sakit dan masih sakit.
Terima kasih buat Pak Naka, Pak Dosen yang baik hati.
Jumat, 06 November 2015
Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015
Awal ngeliat lomba ini tertarik banget ikut. Tetapi temanya itu loh ... berat. Sanitasi aja nggak tahu artinya. Ya udah deh riset. Nyari makalah-makalah tentang senitasi, baca dua puluh halaman, walaupun endingnya nggak paham-paham amat. Terus aku juga riset tentang kondisi air minum indonesia. Saat riset-riset ini aku nggak punya ide mau nulis apa. Awalnya, ara pengin nulis tentang mata air yang mengilang. Tetapi, nggak jadi. Terus tiba-tiba inget pas pelajaran kimia pas SMA. Tentang tes air dengan kertas basa dan apa, ya, lupa. Masalahnya dulu Ara nggak suka kimia. Jadi, ara punya ide pasti ada cara ngetes air minum yang baik dikonsumsi dan tidak. Dan ketemulah ide itu. Riset deh. Gimana sih cara mudah mengetes air yang bisa dilakukan anak-anak. Hingga jadilah Cernak berjudul Dektektif Air.
Senin, 19 Oktober 2015
Sabtu, 10 Oktober 2015
Kisah dibalik Cernak “Ternyata Leana Tidak Begitu” yang Dimuat di Majalah Girls Terbaru No 5 Tahun XI 2015
Rasanya masih nggak percaya! Bisa nembus
Majalah Nasional ini! Koran daerah kaya Lampung Post aja, Ara belum
nembus-nembus. Ditambah lagi cernak ini itu tugas Kelas Kurcaci Pos yang
digawangi Kak Bambang Irwanto. Tepatnya tugas ke-7. Padahal, kan temen-temen
kurcaci lain juga ngirim. Nggak nyangka karya Ara dulu yang nonggol. Pasti
karya temen-temen kurcaci pos 14 dan 15 sebentar lagi bakalan nongol juga.
Sabtu, 16 Mei 2015
Cerpen Nominasi 32 BESAR LOMBA #CERPENDUETUNSA Dear Love, Wait Me + Zahratul Wahdati dan Gema Darmawan Saputra
Ini cerpen petamaku, udah duluuuu banget nulisnya. Dan saat itu cerpen duet ini masuk ke 32 Besar Lomba Cerpen Unsa. Tentu kami tidak menyangka karena kami sangat pemula. Ini cerpen adalah saksi aku mulai menulis. Menjadi keyakinan bahwa siapapun bisa menulis.
Sebelumnya, aku akan memperlihatkan daftar peserta yang mengikuti Lomba Cerpen ini, ada banyak sekali penulis berbakat dan sudah punya nama.
Minggu, 03 Mei 2015
Gana dan Kaci
Yeey! Cernak Ara kembali nangkring di Padang Ekpres :)
Kirimnya tanggal 27 April 2015, selesai buat revisi terus kirim. Lalu dimuat tanggal 3 Mei 2015. Awal bulan penuh semangat! Kalau mau baca versi padek silakan buka link ini :)
http://m.padek.co/detail.php?news=25255
Selamat Membaca :)
Gana dan Kaci
Oleh: Diy Ara
Suatu siang,
Kaci si Kancil sedang beristirahat sambil memakan timun. Upah membantu Jiji si
Anjing menjaga kebun Pak Tani. Tiba-tiba dari kejauhan, datang Gana si Gajah. Kaci
ingat cerita para hewan. Kalau Gana itu sangat sombong dan serakah.
“Berikan
timun-timunmu padaku!” perintah Gana.
Minggu, 12 April 2015
Timun Untuk Permintaan Maaf
Dedeng!!! Cenak kedua aku di padang ekpress dateng, ceilah! Seneng dong! Rasanya aku bisa buktiin pada diri sendiri kalau aku tuh bisa bikin cerita :v
Terimakasih untuk semua orang yang mendukung Ara, tanpa kalian mungkin Ara sudah berhenti menulis. Kemarin pas cernak pertamaku dimuat kak Erna masih ngucapin selamat. Tetapi cernak ini, hiks-hiks .... Ini cernak ara hadiahkan khusus untuk Kak Erna terimakasih banyak selama dua tahun mengenal Ara, Kak Erna terus menyemangati Ara.
Ara posting versi belum direvisi sama editornya yah .... yang direvisi hanya judul dan nama kancil, yang awalnya Kaci menjadi Kacil. Ohya yang paling keren tuh ilustrasinya, kemarin pas cernakku yang pertama nggak ada ilustrasinya. Kali ini ada. Dan unyu-unyu.
Ini dia ...
Aku kirim tanggal 8 April dan dimuat 12 April 2015, cepet banget kan :)
Aku kirim tanggal 8 April dan dimuat 12 April 2015, cepet banget kan :)
Kalau mau baca versi pedek silakan klik di sini http://m.padek.co/detail.php?news=23309
Timun Pemintaan Maaf
Oleh: Diy Ara
Jiji si
anjing sakit. Ia tidak bisa melaksanakan tugasnya, menjaga kebun Pak Tani.
Padahal, beberapa hari lagi sayuran-sayuran akan siap dipanen.
Jiji sangat takut, bagaimana kalau hewan-hewan mencuri sayuran itu.
Dua hari kemudian, Jiji merasa tubuhnya sudah
sehat. Sambil mengonggong riang, ia menuju kebun ketika subuh tiba. Ia bernapas
lega, melihat terong ungu, kubis, dan sawi yang besar-besar. Namun, betapa
terkejutnya ia ketika sampai di kebun timun. Tanaman yang merambat di
bilah-bilah bambu itu dahan-dahannya banyak yang patah dan rusak. Timunnya
sudah tidak ada satu pun.
“Oh, tidak!
Siapa yang berani mencuri semua timun? Awas kalau ketemu!” Jiji mengendus-edus
tanah, mencari jejak pencurinya. Ia menemukan banyak jejak kaki Pak Tani. Ia juga
menemukan jejak kaki lain. “Ini ... ini pasti jejak kaki kancil! Aku yakin!”
“Awas kau
kancil!”
Dengan kencang, Jiji berlari ke hutan. Mencari keberadaan si
kancil. Setelah bertanya pada beberapa hewan, ia pun menemukan rumah kancil.
Digedornya keras pintu kayu itu, hingga Kaci si kancil membukanya.
“Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan,
Kaci!”
Kaci tampak bingung. “Memang apa yang aku lakukan?”
“Kau jangan pura-pura tidak tahu!” bentak Jiji. “Dasar
pencuri!”
“Apa? Pencuri?” Kaci semakin tampak bingung.
“Aku tahu, kau yang mencuri timun Pak Tani kan!”
“Tidak! Aku tidak melakukannya, aku tidak mencuri!” Kaci
menggelengkan kepalanya.
“Mana ada pencuri yang mengaku!” Jiji mendengus kesal. “Kau
terkenal suka mencuri timun! Sudah akui saja!”
“Sungguh aku tidak mencurinya, Jiji. Aku bisa mencari
makanan di hutan. Di sana banyak sekali makanan. Aku tidak perlu mencuri di
kebun Pak Tani lagi.” Kaci terus mencoba meyakinkan.
“Alah, berhenti pura-pura! Kau memang pencurinya, aku punya
buktinya.”
“Mana? Coba tunjukan!”
“Baik, ikut aku!”
Jiji membawa Kaci menuju kebun timun dan menunjukan jejak
kaki kancil. “Itu jejak kakimu kan?”
Kaci melihat jejak kaki itu lebih dekat dan membandingkanya
dengan telapak kakinya. Kok sama, pikirnya.
“Betul kan itu jejak kakimu?” tanya Jiji diulang. “Kau
pencurinya!”
“Aku memang pernah
melewati kebun ini saat pulang dari sungai. Jujur, saat itu aku memang lapar
dan tergiur mengambil timun. Tetapi, tidak jadi. Aku ingat, kejadian terakhir
kali aku mencuri. Aku kapok!”
Jiji tertawa mengejek. “Jangan mengarang cerita, Kaci! Sudah
akui saja kau mencuri semua timun di kebun ini.”
“Sungguh, aku tidak mencuri! Dan bagaimana mungkin hewan
kecil seperti aku bisa mencuri semua timun di kebun yang luas ini?” kata Kaci
membela diri.
“Kau pasti mencuri bersama teman-temanmu.”
“Kalau seperti itu harusnya banyak jejak kaki kancil di sini?”
Jiji bingung menjawab pertanyaan Kaci. Ia hanya menemukan
jejak kaki seekor kancil. Tetapi, Jiji ingat kancil terkenal sangat licik.
“Jangan mencoba menjebakku, Kaci! Kau memang pencurinya!”
Nada suara Jiji semakin keras. “Ikut aku! Kau harus aku adukan kepada Pak
Tani.”
Dengan gonggongannya yang seram, Jiji memerintah Kaci menuju
halaman rumah Pak Tani. Kaci tampak gemetaran. Ia ingat dulu saat ia hampir dihajar
Pak Tani karena ketahuan mencuri timun. Untungnya, ia bisa kabur.
Mereka berhenti, melihat mobil bak terbuka di halaman rumah
Pak Tani. Pak Tani dan si supir keluar dari rumah sambil memikul keranjang dan
menaikannya ke mobil. Ada benda hijau tak sengaja jatuh dari keranjang. Jiji menghampiri
dan ternyata benda hijau itu timun. Ia ingat, kalau banyak jejak kaki Pak
Petani di kebun timun. Itu pasti karena Pak Tani sudah memanen timunnya.
Ia menoleh ke arah Kaci. Jiji merasa bersalah tetapi ia malu mengakuinya. Ia mengigit timun
yang terjatuh itu dan medekati Kaci.
“Ini untukmu, timun pemintaan maaf,” kata Jiji sambil
meletakan timun dari mulutnya ke tanah. “Maafkan aku telah menuduhmu mencuri.
Aku menyesal.”
“Kau tahu sekali, aku sangat lapar!” seru Kaci riang sambil
mengigit timun pemberian Jiji. “Terimakasih. Aku sudah memaafkanmu.”
Jiji merasa lega, Kaci tidak marah. Ia janji tidak akan
bersikap gegabah dan menuduh sembarang lagi.
-tamat-
Rabu, 11 Februari 2015
Kimta si Kura-kura
Ini cernak
pertamaku yang dimuat di koran, akhirnya ..... seneng rasanya ketagihan pengin bisa dimuat lagi! Semoga
setelah ini akan ada lagi karya-karyaku yang muncul... terimakasih untuk
teman-teman yang sudah membantu dan tidak bosan menyemangati saya, love youu
....
Di Muat di
Padang Ekpress 8 Febuari 2015
Kimta Si
Kura-kura
Karya: Diy
Ara
Di sebuah
hutan, hiduplah dua hewan yang berbeda sifat. Niwa seekor monyet yang sombong
dan pelit. Sedangkan, Kimta kura-kura yang
ramah dan suka berbagi makanan. Suatu hari, Kimta kelelahan saat mencari
makanan. Tenaganya habis karena belum makan sejak pagi. Ia pun beristirahat di
bawah pohon.















.jpg)

