Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Karya Dimuat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Dimuat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2018

Cerpen Meikardus Dimuat Majalah Derap Guru Edisi Januari


                                                                 
cerpen-majalah-derap-guru


MeiKardus
Oleh: Zahratul Wahdati

Jumat, 16 Maret 2018

Cerpen Tarian Gagak di Atap Rumah Kami, Dimuat di Majalah Derap Guru Edisi Desember 2017


cerpen-majalah-derap-guru
Add caption

Minggu, 16 April 2017

Cerita Anak Ranila Kurcaci Penulis


Dimuat 9 April 2017 di Koran Solopos

Cerita Anak Memilih Pintu

Cernak ini dimuat di Suara Merdeka, 22 Januari 2017

Kamis, 24 Maret 2016

Cernak Detektif Air




Detektif Air
Oleh: Diy Ara

            Suatu sore, di salah satu desa di Pemalang. Jawa Tengah, seorang anak perempuan bernama Sala, diam-diam mengikuti langkah Kak Zita.

SERAMBI PERPUS


Nah, lho. Dari sekian banyak anggota Serambi Perpus, namaku yang kelihatan di sini. Zahratul Wahdati berpendapat :v 

Selasa, 05 Januari 2016

Opini Sopir Angkot Baca Koran, Mahasiswa Baca Status


Opini Dimuat di Koran Rakyat Jateng, 30 Desember 2015 "Sopir Angkot Baca Koran, Mahasiswa Baca Status"

Rabu, 23 Desember 2015

Cernak Koran Solo Post, Gaun Biru Selen Dimuat Minggu, 20 Desember 2015


Ini cerpen perdana Ara yang dimuat di Cernak Koran Solo Post. Ide cerita ini didapatkan dari atikel di Majalah Bobo yang mengatakan bahwa nyamuk sangat suka hinggap di warna biru, dibandingkan warna lain. Dari artikel itulah cerpen ini Ara buat. Memberikan kepada pembaca ilmu dan pengetahuan tentang fakta unik nyamuk. Awalnya cernak ini sudah dua kali dikirim ke koran, selain Koran Solo Post, tetapi tidak ada kabar. Lalu Ara ganti nama tokoh yaitu Seon Kurcaci menjadi Selen, dan revisi dengan mengefektifkan kalimat-kalimatnya, dan akhirnya dikirim ke Koran Solo Post pada tanggal 1 Desember 2015. 19 hari masa tunggunya. Hehehe ....

Terima kasih. Selamat membaca ...

Rabu, 16 Desember 2015

Opini Dimuat Koran Rakyat Jateng 4 Desember 2015, Hewan Tak Langka Juga Butuh Perlindungan


Ini opini Ara yang kedua di Koran Rakyat Jateng, Jumat, 4 Desember 2015. Ara membuat opini ini karena bertepatan dengan Hari Hak Asasi Hewan tanggal 10 Desember 2015. Terima kasih utuk Pak Naka yang sudah membimbing Ara menulis opini. Selamat membaca ... Ohya, jangan lupa tinggalkan kecupan di komentar. hehehe ...

Jumat, 27 November 2015

Opini Mengancam Sejarah Melalui Kenangan




Ini sebenernya tugas mata kuliah pembelajaran membaca dan menulis, lalu Pak Dosen ngirim filenya ke Koran Jateng dan nggak nyangka dari banyak tulisan mahasiswa yang dikirim Pak Dosen ke koran itu, tulisan Ara yang dimuat setelah tulisan teman saya, Fania yang duluan dimuat. Jangan tanya perasaan Ara. Tentu saja nggak percaya. Hehehe ...

Baru sempet di posting gara-gara Bumbum sakit dan masih sakit.

Terima kasih buat Pak Naka, Pak Dosen yang baik hati. 

Jumat, 06 November 2015

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015


      Awal ngeliat lomba ini tertarik banget ikut. Tetapi temanya itu loh ... berat. Sanitasi aja nggak tahu artinya. Ya udah deh riset. Nyari makalah-makalah tentang senitasi, baca dua puluh halaman, walaupun endingnya nggak paham-paham amat. Terus aku juga riset tentang kondisi air minum indonesia. Saat riset-riset ini aku nggak punya ide mau nulis apa. Awalnya, ara pengin nulis tentang mata air yang mengilang. Tetapi, nggak jadi. Terus tiba-tiba inget pas pelajaran kimia pas SMA. Tentang tes air dengan kertas basa dan apa, ya, lupa. Masalahnya dulu Ara nggak suka kimia. Jadi, ara punya ide pasti ada cara ngetes air minum yang baik dikonsumsi dan tidak. Dan ketemulah ide itu. Riset deh. Gimana sih cara mudah mengetes air yang bisa dilakukan anak-anak. Hingga jadilah Cernak berjudul Dektektif Air. 

Cernak Kakakku Dokter di Pedalaman dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur 18 Oktober 2015

Heloo sahabat Diy Ara :) mau cerita sedikit tentang cernak ini. Cernak ini pertama kalinya nembus nusantara bertutur. Kedua kalinya nembus media nasional. Yang penting jangan pantang menyerah teman-teman, ditolak kirim lagi. Pasti deh, suatu saat, cernakmu yang akan nongol di Nubi.

Senin, 19 Oktober 2015

Cerpen Ternyata Leana Tidak Begitu dimuat pada Majalah GIRLS No.05/Th.XI, beredar 7 Oktober - 20 Oktober 2015.

Thank you, buat Kak Bambang yang membantu Ara nulis cernak ini, thank buat Rani, Sahabatku, yang mau ngutangin dan beliin majalahnya di Toga Mas. hehehe. Dan tak lupa, Damar, Athirah, Khotim yang mau foto bareng sama karyaku. :) Narsis dulu nggak papa, ya :v

Sabtu, 10 Oktober 2015

Kisah dibalik Cernak “Ternyata Leana Tidak Begitu” yang Dimuat di Majalah Girls Terbaru No 5 Tahun XI 2015





Rasanya masih nggak percaya! Bisa nembus Majalah Nasional ini! Koran daerah kaya Lampung Post aja, Ara belum nembus-nembus. Ditambah lagi cernak ini itu tugas Kelas Kurcaci Pos yang digawangi Kak Bambang Irwanto. Tepatnya tugas ke-7. Padahal, kan temen-temen kurcaci lain juga ngirim. Nggak nyangka karya Ara dulu yang nonggol. Pasti karya temen-temen kurcaci pos 14 dan 15 sebentar lagi bakalan nongol juga.

Sabtu, 16 Mei 2015

Cerpen Nominasi 32 BESAR LOMBA #CERPENDUETUNSA Dear Love, Wait Me + Zahratul Wahdati dan Gema Darmawan Saputra

Ini cerpen petamaku, udah duluuuu banget nulisnya. Dan saat itu cerpen duet ini masuk ke 32 Besar Lomba Cerpen Unsa. Tentu kami tidak menyangka karena kami sangat pemula. Ini cerpen adalah saksi aku mulai menulis. Menjadi keyakinan bahwa siapapun bisa menulis.
Sebelumnya, aku akan memperlihatkan daftar peserta yang mengikuti Lomba Cerpen ini, ada banyak sekali penulis berbakat dan sudah punya nama.

"Mataharimu" Kumcer Bertahan Demi Cinta

Ini kumcer petamaku :)



MATAHARIMU
OLEH: ZAHRA DIYZHA

Minggu, 03 Mei 2015

Gana dan Kaci


Yeey! Cernak Ara kembali nangkring di Padang Ekpres :)
Kirimnya tanggal 27 April 2015, selesai buat revisi terus kirim. Lalu dimuat tanggal 3 Mei 2015. Awal bulan penuh semangat! Kalau mau baca versi padek silakan buka link ini :)
http://m.padek.co/detail.php?news=25255
Selamat Membaca :)



Gana dan Kaci
Oleh: Diy Ara

            Suatu siang, Kaci si Kancil sedang beristirahat sambil memakan timun. Upah membantu Jiji si Anjing menjaga kebun Pak Tani. Tiba-tiba dari kejauhan, datang Gana si Gajah. Kaci ingat cerita para hewan. Kalau Gana itu sangat sombong dan serakah.
            “Berikan timun-timunmu padaku!” perintah Gana.

Minggu, 12 April 2015

Timun Untuk Permintaan Maaf

Dedeng!!! Cenak kedua aku di padang ekpress dateng, ceilah! Seneng dong! Rasanya aku bisa buktiin pada diri sendiri kalau aku tuh bisa bikin cerita :v
Terimakasih untuk semua orang yang mendukung Ara, tanpa kalian mungkin Ara sudah berhenti menulis. Kemarin pas cernak pertamaku dimuat kak Erna masih ngucapin selamat. Tetapi cernak ini, hiks-hiks .... Ini cernak ara hadiahkan khusus untuk Kak Erna terimakasih banyak selama dua tahun mengenal Ara, Kak Erna terus menyemangati Ara.

Ara posting versi belum direvisi sama editornya yah .... yang direvisi hanya judul dan nama kancil, yang awalnya Kaci menjadi Kacil. Ohya yang paling keren tuh ilustrasinya, kemarin pas cernakku yang pertama nggak ada ilustrasinya. Kali ini ada. Dan unyu-unyu.
Ini dia ... 
Aku kirim tanggal 8 April dan dimuat 12 April 2015, cepet banget kan :)

Kalau mau baca versi pedek silakan klik di sini http://m.padek.co/detail.php?news=23309


Timun Pemintaan Maaf
Oleh: Diy Ara

            Jiji si anjing sakit. Ia tidak bisa melaksanakan tugasnya, menjaga kebun Pak Tani. Padahal, beberapa hari lagi sayuran-sayuran akan  siap dipanen.  Jiji sangat takut, bagaimana kalau hewan-hewan mencuri sayuran itu.
             Dua hari kemudian, Jiji merasa tubuhnya sudah sehat. Sambil mengonggong riang, ia menuju kebun ketika subuh tiba. Ia bernapas lega, melihat terong ungu, kubis, dan sawi yang besar-besar. Namun, betapa terkejutnya ia ketika sampai di kebun timun. Tanaman yang merambat di bilah-bilah bambu itu dahan-dahannya banyak yang patah dan rusak. Timunnya sudah tidak ada satu pun.
            “Oh, tidak! Siapa yang berani mencuri semua timun? Awas kalau ketemu!” Jiji mengendus-edus tanah, mencari jejak pencurinya. Ia menemukan banyak jejak kaki Pak Tani. Ia juga menemukan jejak kaki lain.  “Ini ...  ini pasti jejak kaki kancil! Aku yakin!”
            “Awas kau kancil!”
Dengan kencang, Jiji berlari ke hutan. Mencari keberadaan si kancil. Setelah bertanya pada beberapa hewan, ia pun menemukan rumah kancil. Digedornya keras pintu kayu itu, hingga Kaci si kancil membukanya.
“Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan, Kaci!”
Kaci tampak bingung. “Memang apa yang aku lakukan?”
“Kau jangan pura-pura tidak tahu!” bentak Jiji. “Dasar pencuri!”
“Apa? Pencuri?” Kaci semakin tampak bingung.
“Aku tahu, kau yang mencuri timun Pak Tani kan!”
“Tidak! Aku tidak melakukannya, aku tidak mencuri!” Kaci menggelengkan kepalanya.
“Mana ada pencuri yang mengaku!” Jiji mendengus kesal. “Kau terkenal suka mencuri timun! Sudah akui saja!”
“Sungguh aku tidak mencurinya, Jiji. Aku bisa mencari makanan di hutan. Di sana banyak sekali makanan. Aku tidak perlu mencuri di kebun Pak Tani lagi.” Kaci terus mencoba meyakinkan.
“Alah, berhenti pura-pura! Kau memang pencurinya, aku punya buktinya.”
“Mana? Coba tunjukan!”
“Baik, ikut aku!”
Jiji membawa Kaci menuju kebun timun dan menunjukan jejak kaki kancil. “Itu jejak kakimu kan?”
Kaci melihat jejak kaki itu lebih dekat dan membandingkanya dengan telapak kakinya. Kok sama, pikirnya.
“Betul kan itu jejak kakimu?” tanya Jiji diulang. “Kau pencurinya!”
 “Aku memang pernah melewati kebun ini saat pulang dari sungai. Jujur, saat itu aku memang lapar dan tergiur mengambil timun. Tetapi, tidak jadi. Aku ingat, kejadian terakhir kali aku mencuri. Aku kapok!”
Jiji tertawa mengejek. “Jangan mengarang cerita, Kaci! Sudah akui saja kau mencuri semua timun di kebun ini.”
“Sungguh, aku tidak mencuri! Dan bagaimana mungkin hewan kecil seperti aku bisa mencuri semua timun di kebun yang luas ini?” kata Kaci membela diri.
“Kau pasti mencuri bersama teman-temanmu.”
“Kalau seperti itu harusnya banyak jejak kaki kancil di sini?”
Jiji bingung menjawab pertanyaan Kaci. Ia hanya menemukan jejak kaki seekor kancil. Tetapi, Jiji ingat kancil terkenal sangat licik.
“Jangan mencoba menjebakku, Kaci! Kau memang pencurinya!” Nada suara Jiji semakin keras. “Ikut aku! Kau harus aku adukan kepada Pak Tani.”
Dengan gonggongannya yang seram, Jiji memerintah Kaci menuju halaman rumah Pak Tani. Kaci tampak gemetaran. Ia ingat dulu saat ia hampir dihajar Pak Tani karena ketahuan mencuri timun. Untungnya, ia bisa kabur.
Mereka berhenti, melihat mobil bak terbuka di halaman rumah Pak Tani. Pak Tani dan si supir keluar dari rumah sambil memikul keranjang dan menaikannya ke mobil. Ada benda hijau tak sengaja jatuh dari keranjang. Jiji menghampiri dan ternyata benda hijau itu timun. Ia ingat, kalau banyak jejak kaki Pak Petani di kebun timun. Itu pasti karena Pak Tani sudah memanen timunnya.
Ia menoleh ke arah Kaci. Jiji merasa bersalah  tetapi ia malu mengakuinya. Ia mengigit timun yang terjatuh itu dan medekati Kaci.
“Ini untukmu, timun pemintaan maaf,” kata Jiji sambil meletakan timun dari mulutnya ke tanah. “Maafkan aku telah menuduhmu mencuri. Aku menyesal.”
“Kau tahu sekali, aku sangat lapar!” seru Kaci riang sambil mengigit timun pemberian Jiji. “Terimakasih. Aku sudah memaafkanmu.”
Jiji merasa lega, Kaci tidak marah. Ia janji tidak akan bersikap gegabah dan menuduh sembarang lagi.
-tamat-












Rabu, 11 Februari 2015

Kimta si Kura-kura

Ini cernak pertamaku yang dimuat di koran, akhirnya ..... seneng  rasanya ketagihan pengin bisa dimuat lagi! Semoga setelah ini akan ada lagi karya-karyaku yang muncul... terimakasih untuk teman-teman yang sudah membantu dan tidak bosan menyemangati saya, love youu ....

Di Muat di Padang Ekpress 8 Febuari 2015
Kimta Si Kura-kura
Karya: Diy Ara

Di sebuah hutan, hiduplah dua hewan yang berbeda sifat. Niwa seekor monyet yang sombong dan pelit. Sedangkan, Kimta kura-kura yang  ramah dan suka berbagi makanan. Suatu hari, Kimta kelelahan saat mencari makanan. Tenaganya habis karena belum makan sejak pagi. Ia pun beristirahat di bawah pohon.

Copyright © 2015 ZAHRATUL WAHDATI
| Distributed By Gooyaabi Templates