Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 Maret 2018
Jumat, 16 Maret 2018
Senin, 01 Mei 2017
Selasa, 20 Oktober 2015
Sabtu, 16 Mei 2015
Cerpen Nominasi 32 BESAR LOMBA #CERPENDUETUNSA Dear Love, Wait Me + Zahratul Wahdati dan Gema Darmawan Saputra
Ini cerpen petamaku, udah duluuuu banget nulisnya. Dan saat itu cerpen duet ini masuk ke 32 Besar Lomba Cerpen Unsa. Tentu kami tidak menyangka karena kami sangat pemula. Ini cerpen adalah saksi aku mulai menulis. Menjadi keyakinan bahwa siapapun bisa menulis.
Sebelumnya, aku akan memperlihatkan daftar peserta yang mengikuti Lomba Cerpen ini, ada banyak sekali penulis berbakat dan sudah punya nama.
Senin, 04 Mei 2015
Cerpen Senja Ungu di Mata Bapak
Senja Ungu di Mata Bapak
oleh Diy Ara
Setiap pulang, saya selalu menemukan
senja di mata Bapak. Awalnya senja itu, berwarna keemasan. Tetapi kini berubah
jadi ungu setelah kepergian Ibu.
***
Hujan menyentuh jemari saya, yang
sengaja saya julurkan melewati atap halte. Percikan-percikan airnya mengenai
seragam putih abu-abu yang saya kenakan. Merembes juga melewati lubang di kedua
ujung sepatu saya. Mungkin hanya perasaan—beberapa orang di halte itu
memperhatikan saya. Seakan-akan mereka
melihat ada anak menyedihkan yang pantas ditonton.
Sejujurnya, saya sedang tidak
menunggu bis. Apalagi menunggu Bapak menjemput seperti kebiasaannya dua tahun
lalu. Itu tidak mungkin. Motor Bapak sudah dijual untuk mengobati mata Bapak.
Tubuh Bapak juga semakin renta. Ia mudah sekali masuk angin. Jadi, saya hanya
menunggu hujan reda di sini.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di
hadapan saya. “Din, ayo naik!”
“Siapa?” tanya saya setelah gagal mengenali
suara itu dan juga sosoknya yang disamarkan jas hujan dan helm hitam.
Ia
membuka kaca helm, “Aku, Gilang! Ayo naik, cepet!”
“Gilang?”
Saya
tertegun, tetapi akhirnya saya naik juga ke bonjengan. Terdengar suara hujaman
air mengenai jas hujan yang memayungi kepala saya. Menyatu dengan detak jantung
saya yang cepat. Secepat motor itu melaju.
Esoknya,
saya tidak menyangka, ternyata itu bukan cuma mimpi yang kebetulan jadi nyata.
Itu menjadi semakin nyata pada hari-hari berikutnya. Gilang, kakak kelas kaya
raya dan ganteng itu beneran naksir saya. Ia bilang, ia sangat salut dengan
kesabaran saya menerima kesedihan. Ia juga berjanji, akan membuat saya bahagia.
Sungguh
itu bukan hanya janji, setiap hari ia memberikan saya bunga. Ia juga membelikan
sepatu. Selalu berada di dekat saya. Dengan begitu, sirnalah julukan anak
nelangsa yang diberikan teman-teman kepada saya. Malahan, mereka mengganggap
saya sangat beruntung. Saya mengakuinya, pacaran dengan Gilang membuat saya
serasa melewati pelangi. Meski saya harus menerjang diam-diam nasehat Bapak
untuk tidak pacaran. Tak masalah.
Untuk
menutupi hubungan kami, saya semakin sering berdusta pada Bapak. Dari alasan
belajar ke rumah Retno, Eskul di sekolah, dan lain-lainnya. Tak masalah. Yang
penting Bapak tak tahu, kalau Gilang sering membawa saya jalan-jalan sepulang
sekolah.
Suatu
malam, Gilang mengandeng saya menuju pesta ulang tahun temannya yang diadakan
di rumah. Saya kira sangat ramai, ternyata hanya sekitar sepuluh orang di sana:
tiga perempuan dan tujuh laki-laki. Langkah
kaki saya memberat, menatapi botol-botol alkohol di meja ruang itu.
“HBD,
Bro!” sapa Gilang pada temen berambut cepak. “Sorry telat, Jo.”
“Slow
aja, Sob!”
“Gilang
aku mau pulang aja.” Saya berbisik ditelinganya. Tubuh saya sudah gemetar
ketakutan.
“Bentar,
aku toilet dulu.”
Gilang meninggalkan saya bersama pandangan
mata menjijikan Jo, lelaki berambut cepak. Hal yang tiba-tiba tidak saya duga
terjadi. Tangan Jo mengangangkat dagu saya, lantas mencium brutal bibir saya. Napas
saya seakan terlepas. Saya terus berusaha mendorong tubuh itu. Sampai akhirnya
Gilang datang dan meninju pipi Jo.
“Itu
hanya salam perkenalan, Sob! Nggak lebih!”
Saya
tidak mendengar lagi percakapan mereka, dan tak peduli lagi. Air mata saya
menitih. Dada saya benar-benar sesak. Saya berlari keluar. Seandainya saya
ingat kata bapak.
***
Senja ungu di mata Bapak semakin
gelap dan membuat saya takut. Ah, tetapi kenapa saya takut? Bapak tidak tahu
hal hina yang saya lakukan kemarin. Karena ketika saya pulang, saya langsung
menutup pintu dan menangis di bawah bantal. Padahal saat itu, saya sangat
menyukai ungu, warna kesukaan Gilang. Lama-lama saya malah jadi benci warna
ungu, mungkin karena terlalu lama menahan ketakutan setiap memandang mata Bapak
dan membayangkan hubungan saya dengan Gilang.
Saya
tidak tahan lagi menerima keanehan ini, kenapa saya terlalu takut dengan mata
senja ungu, Bapak? Dan kenapa mata bapak semakin gelap setiap menatap saya?
Makanya suatu sore, saya beranikan diri bertanya pada Bapak, kenapa dengan
warna matanya? Ia tak menjawab, ia malah memeluk saya. Saya bertanya lagi,
kenapa warnanya ungu? Ia tak menjawab lagi, tetapi telinga saya mendengar suara
tangis yang lekas membungkam mulut saya.
Itu
pertama dan terakhir kali saya bertanya tentang senja ungu di matanya. Saya tak
berani lagi. Saya tak mau dia menangis. Lebih baik saya membiarkan ketakutan
ini merajalela dan biarkan saja saya pendam sendiri. Saya merasa bersalah, meski
saya tidak tahu apakah bapak mengetahui kebohongan saya yang mengecewakannya
atau tidak. Tetapi sejak saat itu saya memutuskan tidak pacaran. Meski saya
tahu, Gilang benar-benar mencintai saya. Itu terbukti saat ia rela mendekam di
penjara setelah meninju Jo hingga masuk rumah sakit.
Dan
saya menyesal memendam pertanyaan itu sampai senja selesai. Sampai saya tidak
mendapat kejelasan apa pun, kenapa ada senja ungu di mata Bapak yang sekarang
telah tenggelam di ujung barat, di atas taburan daun pandan dan bebungaan. Saya
hanya ingin meminta maaf atas kesalahan yang saya pendam itu, Bapak. Maafkan
saya.
Rabu, 08 April 2015
Obat tidurku: dia
Obat tidurku: dia
Oleh: Diy
Ara
Kau tahu, aku sering memaki Laut Jawa.
Dia begitu jahat, memisahkan Kalimantan dan Jawa. Menyebabkan jarak kau dan aku
terlalu jauh. Semakin sulit untuk bertemu. Semakin sulit menyentuh. Dan tentu,
aku akui, itu menyebabkan rindu berkerumun seperti awan dalam jantungku.
Tapi jujur, aku tak pernah menyangka,
aku yang kekanak-kanakan ini tetap bertahan melewati hubungan cinta semacam ini.
Padahal teman-teman bilang, aku sama saja seperti jomblo padahal aku punya kau.
Sempat aku ingin menyerah, mengatakan putus. Lalu diam dan pergi. Karena saat
itu, aku pikir itu mudah. Amat gampang. Tinggal ganti kartu sim HP dan tutup
semua akun media sosialku. Dan tidak ada lagi cara kita bisa saling terhubung.
Ah, aku bisa gila jika melakukannya sebab aku
tak mungkin bisa menutup mata, tidur tanpa mendengar suaramu. Karena suaramu
adalah obat tidurku, si penyandang insomnia.
“Aku punya
hadiah untukmu, Ra.” katamu di sambungan telepon.
“Aku tidak
butuh hadiah, kita kan sama-sama mahasiswa. Kita harus hemat. Biaya kirim
Kalimantan-Jawa itu lumayan mahal.”





