Terbaru

Sabtu, 16 Mei 2015

Cerpen Nominasi 32 BESAR LOMBA #CERPENDUETUNSA Dear Love, Wait Me + Zahratul Wahdati dan Gema Darmawan Saputra

Ini cerpen petamaku, udah duluuuu banget nulisnya. Dan saat itu cerpen duet ini masuk ke 32 Besar Lomba Cerpen Unsa. Tentu kami tidak menyangka karena kami sangat pemula. Ini cerpen adalah saksi aku mulai menulis. Menjadi keyakinan bahwa siapapun bisa menulis.
Sebelumnya, aku akan memperlihatkan daftar peserta yang mengikuti Lomba Cerpen ini, ada banyak sekali penulis berbakat dan sudah punya nama.

"Mataharimu" Kumcer Bertahan Demi Cinta

Ini kumcer petamaku :)



MATAHARIMU
OLEH: ZAHRA DIYZHA

Minggu, 10 Mei 2015

Review Novel “The Body in the Library” Karya Agatha Chistie



Judul               : The Body in the Library (Mayat dalam Perpustakaan)
Penulis            : Agatha Chistie
Tahun Terbit : Cetakan keenam: November 2002
Halaman         :  280 halaman
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
ISBN                : 979-686-156-6

Jangan Percaya, Berpikirlah Logis

Okey kita mulai dari sinopsis singkat di cover belakang novel:
Kolonel Bantry membentak, “Maksudmu ada mayat di dalam pepustakaan saya—perpustakaan saya?” Kepala pelayannya berdehem, “Barang kali Tuan ingin melihatnya sendiri?”
Bagaimanakah sampai mayat seorang gadis bisa berada di ruang perpustakaan keluarga Kolonel Bantry? Mengapa gadis ini dibunuh? Siapa dia?
Sampai sini saja sinopsis singkat di cover bukunya, masalahnya kepotong sama kertas lebel perpustakaan UPGRIS. Jadi ketahuan kan aku minjem dari perpus -_-
Aku lanjutkan saja sinopsisnya dengan kata-kataku sendiri.
Mayat gadis muda berumur delapan belas tahun itu, memiliki dandangan yang sangat mencolok di antara perpustakaan yang antik, tempatnya ditemukannya mati. Menurut kesaksiaan sepupunya, mayat itu adalah Rubby Keene seorang penari di hotel. Tetapi kenapa dia bisa berada di perpustakaan Kolonel Bantry, padahal Kolonel Bantry mengaku bahwa tidak pernah mengenal gadis itu.
Pihak kepolisian terus menyelidiki kasus ini. Dari beberapa orang yang mungkin terkait dengan kematian Rubby. Tetapi semuanya, memiliki alibi yang tidak terbantahkan dan membuat mereka bebas dari tuduhan. Tentu membuat polisi kebingungan. Namun di sini ada tokoh Nona Marple perawan tua yang memiliki banyak pengalaman mengenai kasus yaitu menghubungkannya dengan kehidupan dusun. Belum kasus gadis muda itu terungkap, ada sebuah pembunuhan kembali yang menimpa Pamella gadis yang masih sekolah.  Dia ditemukan terbakar di dalam mobil. Dan kematian dua gadis itu ditafsirkan dibunuh oleh orang yang sama.
Nona Marple  meramalkan pasti bakal ada usaha pembunuhan ketiga!
Review:
Judul review aku rada-rada gimana gitu, entahlah ... Sebenernya aku tidak percaya bisa menyelesaikan membaca novel ini. Jujur selama sebulan ini aku belum pernah kelar menyelesaikan baca satu novel pun. Karena kekurangan waktu, aku lebih suka baca cerpen yang sekali duduk. Tetapi kali ini, selesai Jeng! :v padahal, sejak tadi pagi hatiku terus berteriak-teriak nyuruh aku nyelesain tugas kuliah. Tetapi gara-gara novel ini yang bikin sumpeh penasaran banget. Akhirnya, sampai aku nulis review ini aku belum ngerjain tugasnnya. -_-
Ini memang novel pertama Agatha Cristie yang aku baca. Hanya satu hari dari pagi sampai malam aku menyelesaikan membacanya. Dan aku langsung marah! Pengin langsung remes-remes tuh novel setelah selesai membacanya. Why? karena endingnya itu bener-bener ngecoh banget. Dari awal aku udah dibawa kemana-mana, awalnya di bawa ketempat yang cerah sampai aku memprediksi siapa pelakunya. Lalu semakin lama aku berada di hutan yang gelap dan tidak bisa memprediksi siapa pelaku pembunuhannya. Sampai penasaran siapa sih pelakunya! Apa motifnya cinta, uang, atau hal lain?
Karena itulah aku baca sampai kelar! Dan penulis benar-benar cerdik menempatkan jawaban siapa pelakunya dan apa motif sebenarnya. Kamu tahu di mana? di akhir bab, di halaman yang menyentuh halaman terakhir. Jadi kamu bakalan dibuat penasaran sampai akhir! Dan dibikin mengangga lebar diakhir karena apa yang diungkapkan diakhir benar-benar di luar perkiraan kita. Di luar banget! Kamu bakalan benar-benar tertipu! Oh berapa kali aku bilang, benar-benar?
Tapi jujur novel keren abis! Apalagi karakter tokoh-tokoh kuat banget! Aku suka sekali dengan Nona Marple, dia sungguh tokoh yang unik. Beberapa polisi tidak percaya dengan kehebatan Nona Marple, tetapi ternyata Nona Marplelah yang mengungkap kasus ini. Karena dia tidak memiliki sifat seperti polisi.
“Saya kuatirkan Anda akan menganggap ‘metode’ saya, sebagaimana yang dikatakan Sir Henry, amat amatiran. Terus terang saja sebetulnya kebanyakan orang dan--tidak terkecuali juga polisi—terlalu mudah percaya, di dunia yang jahat ini. Mereka mempercayai apa saja yang dikatakan orang kepada mereka. Saya tidak pernah berbuat demikian. Saya suka membuktikan sesuatu sendiri.” (hal. 268)
Saya juga suka sifat Tuan Jefferson yang kehilangan semua anak-anaknya saat kecelakaan dan juga kedua kakinya. Tetapi dia masih bisa berjuang hidup, menjadi sukses, bahkan ingin mengadopsi Ruby menjadi anak. Yang paling berkesan adalah kata-kata ini.
“.................Sebenarnya manusia lebih baik mati aus dibandingkan mati karatan.....”(hal.196)
Novel ini pantas dibaca, sangat pantas! Satu kata yang menggambarkan novel ini: Keren!
Aku kasih 5 bintang dari 5 bintang untuk novel ini.


Rabu, 06 Mei 2015

Pergilah! Aku Mohon, Pergilah!



            Rasanya ingin sekali mencekik, ah kenapa aku berpikir terlalu sadis seperti itu? Seadainya saja kata TIDAK SETUJU yang berulang kali aku katakan itu bisa membuat dia lenyap dari kehidupan kami. Seadainya saja sikap jengkelku membuat dia menyerah mencoba memasuki kehidupan kami. Mungkin, aku tidak akan seenek ini! Pikiranku benar-benar kacau, aku jadi malas kuliah, aku jadi malas pulang ke rumah, bahkan aku lebih memilih menjadi penghuni kos tetap meski tanggal merah tertera atau liburan panjang. Itu semua karena aku tidak mau berdebat tentang dia lagi! Tentang dia yang hanya bisa mendekati dan menaklukan hatimu, Mama. Tentang dia yang tidak pernah mencoba untuk mencoba menaklukan hati aku dan adikku. Apa dia pernah mencoba untuk menyakinkan kami bahwa dia layak untuk menjadikan dia sosok ayah? Dia pengecut! Dia tidak masuk kriteria seorang, Ayah untukku Mama. Tidak!
            Ini benar-benar membuatku kacau! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi! Tidak ada yang mengerti perasaanku! Sebenernya aku tidak ingin menulis cerita ini di blogku. Aku tidak mau orang tahu tahu perasaanku. Tetapi rasanya, terlalu lama menyimpannya, hatiku pasti hancur karena terus menahan sesak. Biarlah, biarlah aku dibilang egois! Semua mengecap aku egois. Aku tahu aku egois. Aku tahu aku mementingkan diriku sendiri. Aku benar-benar tidak ingin setuju! Bisakah dimengerti!
            Semua orang tidak mengerti. Semua orang yang mendengar curhatku, semua sama saja. Mengatakan seharusnya aku menyisihkan sedikit egoisku. Intinya mereka bilang, harusnya aku setuju karena aku sudah dewasa. Apakah seorang yang sudah dewasa, tidak boleh bilang tidak setuju. Baiklah, kalau orang dewasa akan bilang setuju. Aku tidak mau dianggap dewasa dalam masalah ini. Aku tidak mau!
            Aku takut, Mama. Aku takut ada orang yang masuk di keluarga kita. Aku takut akan ada sesuatu yang lebih serius terjadi jika dia datang dalam keluarga kami. Aku tidak mau mengambil resiko itu! Aku terlalu takut. Okey, Mama dengan alasan dia bakalan membantu keuangan kita. Hahaha! Aku bisa melakukannya untukmu Mama. Aku akan belajar lebih giat. Aku akan menulis lebih giat. Intinya, apa pun akan kulakukan. Tapi tolong jangan memasukan dia dalam keluarga kita mama.
            Papah, aku tidak mau ada sosok yang mengantikanmu di sisi Mama. Tolong bantu aku Papah. Izah janji akan membahagiakan mama. Kecuali untuk hal ini, Papah. Izah tetep akan bilang tidak setuju!

            Mungkin sampai mama melepaskan lelaki itu, aku tidak akan pulang ke rumah. Aku tidak ingin melihat mama melihat aku menangis setiap menahan sesak setiap mama bertanya tentang persetujuanku. Aku tetap akan bilang tidak setuju. Terserah orang bilang aku egois. Aku tidak dewasa. Aku anak yang jahat. Terserah!

Senin, 04 Mei 2015

Cerpen Senja Ungu di Mata Bapak


Senja Ungu di Mata Bapak
oleh Diy Ara

            Setiap pulang, saya selalu menemukan senja di mata Bapak. Awalnya senja itu, berwarna keemasan. Tetapi kini berubah jadi ungu setelah kepergian Ibu.
            ***
            Hujan menyentuh jemari saya, yang sengaja saya julurkan melewati atap halte. Percikan-percikan airnya mengenai seragam putih abu-abu yang saya kenakan. Merembes juga melewati lubang di kedua ujung sepatu saya. Mungkin hanya perasaan—beberapa orang di halte itu memperhatikan saya. Seakan-akan  mereka melihat ada anak menyedihkan yang pantas ditonton.
            Sejujurnya, saya sedang tidak menunggu bis. Apalagi menunggu Bapak menjemput seperti kebiasaannya dua tahun lalu. Itu tidak mungkin. Motor Bapak sudah dijual untuk mengobati mata Bapak. Tubuh Bapak juga semakin renta. Ia mudah sekali masuk angin. Jadi, saya hanya menunggu hujan reda di sini.
            Tiba-tiba sebuah motor berhenti di hadapan saya. “Din, ayo naik!”
 “Siapa?” tanya saya setelah gagal mengenali suara itu dan juga sosoknya yang disamarkan jas hujan dan helm hitam.
Ia membuka kaca helm, “Aku, Gilang! Ayo naik, cepet!”
“Gilang?”
Saya tertegun, tetapi akhirnya saya naik juga ke bonjengan. Terdengar suara hujaman air mengenai jas hujan yang memayungi kepala saya. Menyatu dengan detak jantung saya yang cepat. Secepat motor itu melaju.
Esoknya, saya tidak menyangka, ternyata itu bukan cuma mimpi yang kebetulan jadi nyata. Itu menjadi semakin nyata pada hari-hari berikutnya. Gilang, kakak kelas kaya raya dan ganteng itu beneran naksir saya. Ia bilang, ia sangat salut dengan kesabaran saya menerima kesedihan. Ia juga berjanji, akan membuat saya bahagia.
Sungguh itu bukan hanya janji, setiap hari ia memberikan saya bunga. Ia juga membelikan sepatu. Selalu berada di dekat saya. Dengan begitu, sirnalah julukan anak nelangsa yang diberikan teman-teman kepada saya. Malahan, mereka mengganggap saya sangat beruntung. Saya mengakuinya, pacaran dengan Gilang membuat saya serasa melewati pelangi. Meski saya harus menerjang diam-diam nasehat Bapak untuk tidak pacaran. Tak masalah.
Untuk menutupi hubungan kami, saya semakin sering berdusta pada Bapak. Dari alasan belajar ke rumah Retno, Eskul di sekolah, dan lain-lainnya. Tak masalah. Yang penting Bapak tak tahu, kalau Gilang sering membawa saya jalan-jalan sepulang sekolah.
Suatu malam, Gilang mengandeng saya menuju pesta ulang tahun temannya yang diadakan di rumah. Saya kira sangat ramai, ternyata hanya sekitar sepuluh orang di sana: tiga perempuan dan tujuh laki-laki.  Langkah kaki saya memberat, menatapi botol-botol alkohol di meja ruang itu.
“HBD, Bro!” sapa Gilang pada temen berambut cepak. “Sorry telat, Jo.”
“Slow aja, Sob!”
“Gilang aku mau pulang aja.” Saya berbisik ditelinganya. Tubuh saya sudah gemetar ketakutan.
“Bentar, aku toilet dulu.”
 Gilang meninggalkan saya bersama pandangan mata menjijikan Jo, lelaki berambut cepak. Hal yang tiba-tiba tidak saya duga terjadi. Tangan Jo mengangangkat dagu saya, lantas mencium brutal bibir saya. Napas saya seakan terlepas. Saya terus berusaha mendorong tubuh itu. Sampai akhirnya Gilang datang dan meninju pipi Jo.
“Itu hanya salam perkenalan, Sob! Nggak lebih!”
Saya tidak mendengar lagi percakapan mereka, dan tak peduli lagi. Air mata saya menitih. Dada saya benar-benar sesak. Saya berlari keluar. Seandainya saya ingat kata bapak.
            ***
            Senja ungu di mata Bapak semakin gelap dan membuat saya takut. Ah, tetapi kenapa saya takut? Bapak tidak tahu hal hina yang saya lakukan kemarin. Karena ketika saya pulang, saya langsung menutup pintu dan menangis di bawah bantal. Padahal saat itu, saya sangat menyukai ungu, warna kesukaan Gilang. Lama-lama saya malah jadi benci warna ungu, mungkin karena terlalu lama menahan ketakutan setiap memandang mata Bapak dan membayangkan hubungan saya dengan Gilang.
Saya tidak tahan lagi menerima keanehan ini, kenapa saya terlalu takut dengan mata senja ungu, Bapak? Dan kenapa mata bapak semakin gelap setiap menatap saya? Makanya suatu sore, saya beranikan diri bertanya pada Bapak, kenapa dengan warna matanya? Ia tak menjawab, ia malah memeluk saya. Saya bertanya lagi, kenapa warnanya ungu? Ia tak menjawab lagi, tetapi telinga saya mendengar suara tangis yang lekas membungkam mulut saya.
Itu pertama dan terakhir kali saya bertanya tentang senja ungu di matanya. Saya tak berani lagi. Saya tak mau dia menangis. Lebih baik saya membiarkan ketakutan ini merajalela dan biarkan saja saya pendam sendiri. Saya merasa bersalah, meski saya tidak tahu apakah bapak mengetahui kebohongan saya yang mengecewakannya atau tidak. Tetapi sejak saat itu saya memutuskan tidak pacaran. Meski saya tahu, Gilang benar-benar mencintai saya. Itu terbukti saat ia rela mendekam di penjara setelah meninju Jo hingga masuk rumah sakit.

Dan saya menyesal memendam pertanyaan itu sampai senja selesai. Sampai saya tidak mendapat kejelasan apa pun, kenapa ada senja ungu di mata Bapak yang sekarang telah tenggelam di ujung barat, di atas taburan daun pandan dan bebungaan. Saya hanya ingin meminta maaf atas kesalahan yang saya pendam itu, Bapak. Maafkan saya.

Minggu, 03 Mei 2015

Gana dan Kaci


Yeey! Cernak Ara kembali nangkring di Padang Ekpres :)
Kirimnya tanggal 27 April 2015, selesai buat revisi terus kirim. Lalu dimuat tanggal 3 Mei 2015. Awal bulan penuh semangat! Kalau mau baca versi padek silakan buka link ini :)
http://m.padek.co/detail.php?news=25255
Selamat Membaca :)



Gana dan Kaci
Oleh: Diy Ara

            Suatu siang, Kaci si Kancil sedang beristirahat sambil memakan timun. Upah membantu Jiji si Anjing menjaga kebun Pak Tani. Tiba-tiba dari kejauhan, datang Gana si Gajah. Kaci ingat cerita para hewan. Kalau Gana itu sangat sombong dan serakah.
            “Berikan timun-timunmu padaku!” perintah Gana.

Sabtu, 18 April 2015

Aku Kangen Keramaian di Rumah Kami

Aku Rindu Tawa dan Canda Keluarga Amnesia and the Twins, Aku kangen Keramaian di rumah kami.

Sudah lama sekali, sudah hampir setengah tahun rumah itu tak berfungsi untuk memberikan kehangatan. Hanya ada sepi. Hanya ada ruang kosong. Hanya ada batu-batu es yang membingkai tiap jendela. Ada orang di sana. Tetapi seakan tak ada. Tak ada sapa, tak ada guyonan, tak ada candaan, tak ada apapun. Aku rindu, sungguh rindu.
Kalian ke mana? Kalian Ke mana? Tak ada yang menyapa Ara lagi. Tak ada yang peduli Ara. Bagaimana tulisan Ara sekarang? Siapa yang memberikan kritik dan saran tulisan Ara sekarang. Siapa yang peduli kalo EYD Ara menyedihkan. Aku kangen, kangen amarah kakak. Kangen ketika kakak bilang angkat tangan membaca tulisan Ara, tetapi beberapa detik kemudian kalian memeluk Ara kembali. Ara kangen itu. Kangen sekali.
Sekarang, setiap Ara selesai membuat cerpen, Ara bingung siapa yang akan mengomentari tulisan Ara. Endingnya Ara hanya mengandalkan kemampuan Ara yang tak sehebat kalian. Ara kangen dibimbing. Kangen mengandeng tangan Kakak. Ara merasa berjalan di jalan gelap, terjal, sulit sekali. Ara merasa tidak akan menjadi apa-apa tanpa orang-orang hebat seperti kalian. Seorang murid pasti butuh guru bukan, pasti akan sulit kalo dia hanya belajar dari buku bukan?
Ara butuh kalian untuk mengajari Ara.
Kak Erna, Ara kangen Kak Erna. Tetapi Ara tahu, nggak mungkin Ara menyuruh Kakak ke rumah lagi. Karena Kakak sudah menetap di rumah berbeda. Ara kangen...
Kak Mita, Ara juga kangen. Beberapa minggu ini kita nggak telepon-teleponan.
Kak Adam. Kenapa kau berubah sekali. Ara merasa kakak bukan orang yang pertama kali Ara kenal. Kakak yang paling peduli sama Ara. Tetapi sekarang Kakak semakin jauh ... Ara kangen Kak Adam.
Kak Vita. Kak Vita kok jarang online? kangen Rafaelnya, kangen celoteh kakak.
Oppa dan Kak Amel. Aku selalu cemburu dengan kalian.
Aku kangen kalian. Aku kangen. Ara kangen.

Minggu, 12 April 2015

Timun Untuk Permintaan Maaf

Dedeng!!! Cenak kedua aku di padang ekpress dateng, ceilah! Seneng dong! Rasanya aku bisa buktiin pada diri sendiri kalau aku tuh bisa bikin cerita :v
Terimakasih untuk semua orang yang mendukung Ara, tanpa kalian mungkin Ara sudah berhenti menulis. Kemarin pas cernak pertamaku dimuat kak Erna masih ngucapin selamat. Tetapi cernak ini, hiks-hiks .... Ini cernak ara hadiahkan khusus untuk Kak Erna terimakasih banyak selama dua tahun mengenal Ara, Kak Erna terus menyemangati Ara.

Ara posting versi belum direvisi sama editornya yah .... yang direvisi hanya judul dan nama kancil, yang awalnya Kaci menjadi Kacil. Ohya yang paling keren tuh ilustrasinya, kemarin pas cernakku yang pertama nggak ada ilustrasinya. Kali ini ada. Dan unyu-unyu.
Ini dia ... 
Aku kirim tanggal 8 April dan dimuat 12 April 2015, cepet banget kan :)

Kalau mau baca versi pedek silakan klik di sini http://m.padek.co/detail.php?news=23309


Timun Pemintaan Maaf
Oleh: Diy Ara

            Jiji si anjing sakit. Ia tidak bisa melaksanakan tugasnya, menjaga kebun Pak Tani. Padahal, beberapa hari lagi sayuran-sayuran akan  siap dipanen.  Jiji sangat takut, bagaimana kalau hewan-hewan mencuri sayuran itu.
             Dua hari kemudian, Jiji merasa tubuhnya sudah sehat. Sambil mengonggong riang, ia menuju kebun ketika subuh tiba. Ia bernapas lega, melihat terong ungu, kubis, dan sawi yang besar-besar. Namun, betapa terkejutnya ia ketika sampai di kebun timun. Tanaman yang merambat di bilah-bilah bambu itu dahan-dahannya banyak yang patah dan rusak. Timunnya sudah tidak ada satu pun.
            “Oh, tidak! Siapa yang berani mencuri semua timun? Awas kalau ketemu!” Jiji mengendus-edus tanah, mencari jejak pencurinya. Ia menemukan banyak jejak kaki Pak Tani. Ia juga menemukan jejak kaki lain.  “Ini ...  ini pasti jejak kaki kancil! Aku yakin!”
            “Awas kau kancil!”
Dengan kencang, Jiji berlari ke hutan. Mencari keberadaan si kancil. Setelah bertanya pada beberapa hewan, ia pun menemukan rumah kancil. Digedornya keras pintu kayu itu, hingga Kaci si kancil membukanya.
“Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan, Kaci!”
Kaci tampak bingung. “Memang apa yang aku lakukan?”
“Kau jangan pura-pura tidak tahu!” bentak Jiji. “Dasar pencuri!”
“Apa? Pencuri?” Kaci semakin tampak bingung.
“Aku tahu, kau yang mencuri timun Pak Tani kan!”
“Tidak! Aku tidak melakukannya, aku tidak mencuri!” Kaci menggelengkan kepalanya.
“Mana ada pencuri yang mengaku!” Jiji mendengus kesal. “Kau terkenal suka mencuri timun! Sudah akui saja!”
“Sungguh aku tidak mencurinya, Jiji. Aku bisa mencari makanan di hutan. Di sana banyak sekali makanan. Aku tidak perlu mencuri di kebun Pak Tani lagi.” Kaci terus mencoba meyakinkan.
“Alah, berhenti pura-pura! Kau memang pencurinya, aku punya buktinya.”
“Mana? Coba tunjukan!”
“Baik, ikut aku!”
Jiji membawa Kaci menuju kebun timun dan menunjukan jejak kaki kancil. “Itu jejak kakimu kan?”
Kaci melihat jejak kaki itu lebih dekat dan membandingkanya dengan telapak kakinya. Kok sama, pikirnya.
“Betul kan itu jejak kakimu?” tanya Jiji diulang. “Kau pencurinya!”
 “Aku memang pernah melewati kebun ini saat pulang dari sungai. Jujur, saat itu aku memang lapar dan tergiur mengambil timun. Tetapi, tidak jadi. Aku ingat, kejadian terakhir kali aku mencuri. Aku kapok!”
Jiji tertawa mengejek. “Jangan mengarang cerita, Kaci! Sudah akui saja kau mencuri semua timun di kebun ini.”
“Sungguh, aku tidak mencuri! Dan bagaimana mungkin hewan kecil seperti aku bisa mencuri semua timun di kebun yang luas ini?” kata Kaci membela diri.
“Kau pasti mencuri bersama teman-temanmu.”
“Kalau seperti itu harusnya banyak jejak kaki kancil di sini?”
Jiji bingung menjawab pertanyaan Kaci. Ia hanya menemukan jejak kaki seekor kancil. Tetapi, Jiji ingat kancil terkenal sangat licik.
“Jangan mencoba menjebakku, Kaci! Kau memang pencurinya!” Nada suara Jiji semakin keras. “Ikut aku! Kau harus aku adukan kepada Pak Tani.”
Dengan gonggongannya yang seram, Jiji memerintah Kaci menuju halaman rumah Pak Tani. Kaci tampak gemetaran. Ia ingat dulu saat ia hampir dihajar Pak Tani karena ketahuan mencuri timun. Untungnya, ia bisa kabur.
Mereka berhenti, melihat mobil bak terbuka di halaman rumah Pak Tani. Pak Tani dan si supir keluar dari rumah sambil memikul keranjang dan menaikannya ke mobil. Ada benda hijau tak sengaja jatuh dari keranjang. Jiji menghampiri dan ternyata benda hijau itu timun. Ia ingat, kalau banyak jejak kaki Pak Petani di kebun timun. Itu pasti karena Pak Tani sudah memanen timunnya.
Ia menoleh ke arah Kaci. Jiji merasa bersalah  tetapi ia malu mengakuinya. Ia mengigit timun yang terjatuh itu dan medekati Kaci.
“Ini untukmu, timun pemintaan maaf,” kata Jiji sambil meletakan timun dari mulutnya ke tanah. “Maafkan aku telah menuduhmu mencuri. Aku menyesal.”
“Kau tahu sekali, aku sangat lapar!” seru Kaci riang sambil mengigit timun pemberian Jiji. “Terimakasih. Aku sudah memaafkanmu.”
Jiji merasa lega, Kaci tidak marah. Ia janji tidak akan bersikap gegabah dan menuduh sembarang lagi.
-tamat-












Rabu, 08 April 2015

Obat tidurku: dia

Obat tidurku: dia
Oleh: Diy Ara
           
            Kau tahu, aku sering memaki Laut Jawa. Dia begitu jahat, memisahkan Kalimantan dan Jawa. Menyebabkan jarak kau dan aku terlalu jauh. Semakin sulit untuk bertemu. Semakin sulit menyentuh. Dan tentu, aku akui, itu menyebabkan rindu berkerumun seperti awan dalam jantungku.
            Tapi jujur, aku tak pernah menyangka, aku yang kekanak-kanakan ini tetap bertahan melewati hubungan cinta semacam ini. Padahal teman-teman bilang, aku sama saja seperti jomblo padahal aku punya kau. Sempat aku ingin menyerah, mengatakan putus. Lalu diam dan pergi. Karena saat itu, aku pikir itu mudah. Amat gampang. Tinggal ganti kartu sim HP dan tutup semua akun media sosialku. Dan tidak ada lagi cara kita bisa saling terhubung.
 Ah, aku bisa gila jika melakukannya sebab aku tak mungkin bisa menutup mata, tidur tanpa mendengar suaramu. Karena suaramu adalah obat tidurku, si penyandang insomnia.
“Aku punya hadiah untukmu, Ra.” katamu di sambungan telepon.
“Aku tidak butuh hadiah, kita kan sama-sama mahasiswa. Kita harus hemat. Biaya kirim Kalimantan-Jawa itu lumayan mahal.”

Senin, 06 April 2015

Belajar dari Pengalaman (Jangan Buatkan tapi Ajari)



Hal yang menyakitkan yang tidak akan saya ulangi lagi: membiarkan nama di karya saya berubah menjadi nama teman. Sungguh, rasanya sakit sangat menyakitkan bahkan membuat saya menangis. Hari ini temen saya meminta mebuatkan dia cerpen. Dan tentu saya menolak. Saya sebenernya orang yang tidak enakan dan suka berburuk sangka, saya takut karena saya menolak “membantu”nya saya dicap pelit dan sombong. Ah, tetapi saya tidak mau lagi merasakan sakit yang saya alami dulu.
Dulu saya pernah melakukan hal itu, teman-teman di kelas meminta bantuan membuatkan puisi. Awalanya hanya teman sebangku lalu merambat ke teman-teman lain, sampai hampir sepuluh anak. Saya kira saat itu saya membantu mereka, tetapi ternyata tidak selamanya berbuat baik itu baik hati. Tetapi saya malah merasa saya itu goblog sekali. Merelakan karya saya disebut dan dibacakan di depan kelas bukan sebagai karya saya tetapi karya teman saya. Betapa bodohnya saya saat itu. Bahkan puisi saya yang ada di teman saya mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Tentu lebih tinggi dibandingkan puisi yang saya bacakan. Mungkin saat itu saya terlalu naif, kekanak-kanakan menganggap membantu mereka akan membuat keberadaan saya dianggap. Namun, endingnya saya malah merasakan sesak dan menangis di toilet. Tidak ada yang peduli, mereka tidak peduli, mereka hanya butuh puisi saya. Tidak peduli perasaan saya.
Makanya kali ini dan seterusnya saya akan menolak membuatkan teman cerpen, meski sedekat apapun teman itu dengan saya. Saya tidak mau. Saya tidak rela karya saya dianggap karya dia. Meskipun karya saya masih belum bagus, dan masih menye-menye saya tidak akan membiarkan siapapun menganti nama di sana.
Saya memang menolak untuk membuatkan cerpen, tapi bukan berarti saya tidak mau membantu. Saya akan membantu teman ataupun siapapun dalam menulis. Saya akan membantu kritik dan memberi saran. Bahkan kalau kamu mau, ayo belajar bersama sampai bisa menulis. Saya juga masih belajar kok!
i love you



Copyright © 2015 ZAHRATUL WAHDATI
| Distributed By Gooyaabi Templates