Terbaru

Rabu, 08 April 2015

Obat tidurku: dia

Obat tidurku: dia
Oleh: Diy Ara
           
            Kau tahu, aku sering memaki Laut Jawa. Dia begitu jahat, memisahkan Kalimantan dan Jawa. Menyebabkan jarak kau dan aku terlalu jauh. Semakin sulit untuk bertemu. Semakin sulit menyentuh. Dan tentu, aku akui, itu menyebabkan rindu berkerumun seperti awan dalam jantungku.
            Tapi jujur, aku tak pernah menyangka, aku yang kekanak-kanakan ini tetap bertahan melewati hubungan cinta semacam ini. Padahal teman-teman bilang, aku sama saja seperti jomblo padahal aku punya kau. Sempat aku ingin menyerah, mengatakan putus. Lalu diam dan pergi. Karena saat itu, aku pikir itu mudah. Amat gampang. Tinggal ganti kartu sim HP dan tutup semua akun media sosialku. Dan tidak ada lagi cara kita bisa saling terhubung.
 Ah, aku bisa gila jika melakukannya sebab aku tak mungkin bisa menutup mata, tidur tanpa mendengar suaramu. Karena suaramu adalah obat tidurku, si penyandang insomnia.
“Aku punya hadiah untukmu, Ra.” katamu di sambungan telepon.
“Aku tidak butuh hadiah, kita kan sama-sama mahasiswa. Kita harus hemat. Biaya kirim Kalimantan-Jawa itu lumayan mahal.”

Senin, 06 April 2015

Belajar dari Pengalaman (Jangan Buatkan tapi Ajari)



Hal yang menyakitkan yang tidak akan saya ulangi lagi: membiarkan nama di karya saya berubah menjadi nama teman. Sungguh, rasanya sakit sangat menyakitkan bahkan membuat saya menangis. Hari ini temen saya meminta mebuatkan dia cerpen. Dan tentu saya menolak. Saya sebenernya orang yang tidak enakan dan suka berburuk sangka, saya takut karena saya menolak “membantu”nya saya dicap pelit dan sombong. Ah, tetapi saya tidak mau lagi merasakan sakit yang saya alami dulu.
Dulu saya pernah melakukan hal itu, teman-teman di kelas meminta bantuan membuatkan puisi. Awalanya hanya teman sebangku lalu merambat ke teman-teman lain, sampai hampir sepuluh anak. Saya kira saat itu saya membantu mereka, tetapi ternyata tidak selamanya berbuat baik itu baik hati. Tetapi saya malah merasa saya itu goblog sekali. Merelakan karya saya disebut dan dibacakan di depan kelas bukan sebagai karya saya tetapi karya teman saya. Betapa bodohnya saya saat itu. Bahkan puisi saya yang ada di teman saya mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Tentu lebih tinggi dibandingkan puisi yang saya bacakan. Mungkin saat itu saya terlalu naif, kekanak-kanakan menganggap membantu mereka akan membuat keberadaan saya dianggap. Namun, endingnya saya malah merasakan sesak dan menangis di toilet. Tidak ada yang peduli, mereka tidak peduli, mereka hanya butuh puisi saya. Tidak peduli perasaan saya.
Makanya kali ini dan seterusnya saya akan menolak membuatkan teman cerpen, meski sedekat apapun teman itu dengan saya. Saya tidak mau. Saya tidak rela karya saya dianggap karya dia. Meskipun karya saya masih belum bagus, dan masih menye-menye saya tidak akan membiarkan siapapun menganti nama di sana.
Saya memang menolak untuk membuatkan cerpen, tapi bukan berarti saya tidak mau membantu. Saya akan membantu teman ataupun siapapun dalam menulis. Saya akan membantu kritik dan memberi saran. Bahkan kalau kamu mau, ayo belajar bersama sampai bisa menulis. Saya juga masih belajar kok!
i love you



Jumat, 13 Maret 2015

Happy Wedding Kak Amel dan Oppa Arief.



Cie cie cie yang udah SAH! Padahal Ara pengin secara langsung, pas pengulu tanya SAH? Ara langsung teriak SAH! SAH DONG! Yeeyeee Lalala! -_- Huray! (Seandainya mama nggak punya pikiran oppa bakalan mutilasi ara, pasti ara jadi ke sana) :p

Jumat, 13 Februari 2015

Merelakanmu Menjauh, Sebagai Bentuk Kasih Sayangku Untukmu

Entahlah, aku yang kurang dewasa atau dia yang tidak bisa mengerti bahwa aku memang kurang dewasa. Egois vs egois. Mau menang vs mau menang. Paling benar vs paling benar. Kita sama-sama tidak mau mengalah. Kadang, aku memang minta maaf karena aku dianggap salah oleh dia. Kan, aku masih kurang dewasa jadi ya sudahlah aku mungkin memang salah.

Kamis, 12 Februari 2015

Resensi Novel Terbaru 2014 : Immortality of Shadow

Judul buku      : Immortality of Shadow
Penulis             : E. Rows
ISBN               : 978-602-255-683-1
Tahun terbit     : September 2014
Penerbit           : Diva Press
Tebal               : 264 halaman
Peresensi         : Zahratul Wahdati, Mahasiswa PBSI Univ. PGRI Semarang.



Melingkap Misteri An Hammer

            Setiap rumah selalu memiliki penghuni, bukan hanya manusia tapi juga makhluk halus. Seperti rumah bergaya Victoria klasik bernama An Hammer di Boonville yang baru dibeli oleh Corey. Awalnya Corey tak tahu misteri rumah itu, ia hanya takjub melihat foto-foto setiap bagian dari rumah beratap tinggi dengan danau buatan di belakangnya. Begitu tenang, nyaman, dan indah, pikirnya saat itu. Sehingga, ia tak perlu mengunjunginya terlebih dulu untuk menyetujui membelinya.
            Tapi, kejadian aneh mulai menghadiri hari-harinya bersama keluarganya di rumah itu. ‘penghuni-penghuninya’ mulai memperlihatkan tampang menyeramkan mereka. Janet, anak bungsu Corey berteman dengan Dalal, hantu anak kecil dengan kulit mengelupas dan lidah terpotong yang tak bisa dilihat siapa pun kecuali Janet.(Hal. 126)
            Barry, kembaran Rose, anak kedua Corey, dapat melihat kejadian buruk yang menimpa Rose di masa depan dalam mimpinya. Eliana, anak sulung Corey bertemu dengan Dave yang tinggal tak jauh dari An Hammer. Dave pun menceritakan tentang legenda menyeramkan An Hammer, bahwa satu keluarga dalam rumah itu meninggal dunia. (Hal. 147)
            Misteri An Hammer semakin terungkap ketika Rose menemukan papan ouija dan mengajak Barry dan Eliana memainkan permainan memanggil roh itu. Mereka mulai mengetahui kenapa dan bagaimana keluarga pemilik rumah ini meninggal. Namun  parahnya, permainan itu membuat ‘penghuni-penghuni’rumah itu marah. Rose kerasukan, dia terus memandangi danau, selalu mencoba bunuh diri, bahkan ia pernah mencoba membunuh James, ayahnya. Karena itulah, James menganggap Rose gila. Kejadian-kejadian lebih buruk lagi pun kembali menimpa keluarga Corey. (Hal. 244)
Immortality of Shadow, novel perdana dari E. Rows ini menyuguhkan detail tempat yang pas. Sehingga pembaca akan dapat membayangkan begitu menyeramkan dan misteriusnya An Hammer. Sayangnya, karakter anak-anak dan dewasa nampak sama, dan menurut saya, pengenalan tokoh-tokoh di halaman depan itu tak perlu, biarkan pembaca mengenal tokoh ketika membaca bab per babnya. Secara keseluruhan, novel ini bagus untuk dibaca, apalagi untuk penyuka uji nyali.

Rabu, 11 Februari 2015

Kimta si Kura-kura

Ini cernak pertamaku yang dimuat di koran, akhirnya ..... seneng  rasanya ketagihan pengin bisa dimuat lagi! Semoga setelah ini akan ada lagi karya-karyaku yang muncul... terimakasih untuk teman-teman yang sudah membantu dan tidak bosan menyemangati saya, love youu ....

Di Muat di Padang Ekpress 8 Febuari 2015
Kimta Si Kura-kura
Karya: Diy Ara

Di sebuah hutan, hiduplah dua hewan yang berbeda sifat. Niwa seekor monyet yang sombong dan pelit. Sedangkan, Kimta kura-kura yang  ramah dan suka berbagi makanan. Suatu hari, Kimta kelelahan saat mencari makanan. Tenaganya habis karena belum makan sejak pagi. Ia pun beristirahat di bawah pohon.

Minggu, 21 Desember 2014

Surat untuk Kakakku, amnesia dan the twins.

Untuk: Kakak-kakakku tercinta

            Kakak, sudah hampir setahun setengah kita kenal, dan jujur Ara benar-benar mencintai kalian. Padahal kita belum pernah ketemu, dan sekarang jarang ngobrol. Tapi jujur ara selalu merindukan kalian. Tetapi, entah kenapa ada rasa sesak sekarang di sini. Ara merasa kalian berubah, kalian bukan  seseorang Ara kenal dulu. Apalagi, Kak Adam. Iya, ini hanya perasaan, hanya merasa, tapi benar-benar menyesakkan sampai ara tidak mampu membendung air mata Ara. Lebay! Ara nangis untuk orang yang tidak pernah Ara temui. Ara cemburu kepada orang-orang yang lebih diperhatikan oleh kalian dibandingkan Ara. Ara kesal saat kalian tertawa-tawa dengan orang lain, dan tidak melibatkan Ara.

Selasa, 16 Desember 2014

Makalah Pengaruh Buruk Tayangan Banci di TV Terhadap Ketahanan Nasional

1.1  Latar Belakang
Banyak orang di Indonesia memiliki hobi menonton acara TV dan Flm. Bahkan ruang menonton TV biasa disebut ruang keluarga, ruang di mana keluarga berkumpul, ruang yang menjadi favorit, dan ruang yang harus ada di sebuah rumah. Acara TV pun menjadi hiburan di tengah-tengah penatnya kesibukan kantor, sekolah, dan lainnya. Hiburan itu dapat berupa tayangan-tayangan komedi, kuis, sinetron, dan lainya.
Acara TV memiliki banyak sisi positif dan juga negatif. Sisi positifnya  antara lain dapat mengetahui informasi terkini, memberi edukasi, menghibur, dan sebagainya. Adapun sisi negatifnya antara lain mengakibatkan malas, meniru kelakukan tokoh yang buruk, dan sebagainya. Efek buruk yang paling mengerikan biasanya terjadi pada remaja dan anak-anak yang notabene suka meniru gaya idola.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Jalan-Jalan Part 1 ( Tiga Jam Lebih Dekat Bersama Kak Ramaditya Andikara)

           Okey, kenalkan dulu namaku Zahra yang kata salah satu temen kelasku aneh karena sangat cerewet. Cerewet kok aneh? Iya, karena cerewetku beda, aku cerewet lewat tulisan, kau bisa melihat setiap menit statusku muncul di barandamu, atau malah statusku berjejer rapi di barandamu. Karena itulah temanku sebal, padahal di dunia aslinya aku kaya orang-orangan sawah yang hanya bergerak jika ada angin. Angin itu dalam bentuk paksaan.

Sabtu, 06 September 2014

Resensi Novel Surise at the Sunset, karya Monica Anggen



Judul               : Sunrise at the Sunset
Penulis             : Monica Aggen
Penerbit           :  PT GrasIndo
Tahun Terbit   : Cetakan Pertama, 2013
Copyright © 2015 ZAHRATUL WAHDATI
| Distributed By Gooyaabi Templates